hmm aku lupa kapan tepatnya aku dapat seminarnya, yang kalo ga salah isinya tentang emotional apa gituh (lupa hehe).. intinya disitu dibahas tentang sehat holistik, dalam artian holistik yang sebenarnya. pembicaranya ya suami Dee yang sekarang, seorang pria yang persuasif sekali menurutku. Tapi walaupun kata manager hrd ku, seminarnya kurang bagus, setidaknya aku bisa mengambil beberapa pemikiran yang bagus dari seminar yang diberikan. Sebenarnya konsep yang diajarkannya, aku sudah pernah mendapatkannya di Gerejaku dulu semasa kuliah mengenai konsep pemulihan.
oke back to the topic, Ada satu pernyataan yang ia lontarkan yang selalu mengiang-ngiang dikepalaku dan sekarang menjadi prinsip dasar dihidupku (Halah! gaya bet..).
Dia bertanya, "Tadi pagi sarapan apa?"
aku menjawab "Bubur."
Dia, "Enak?"
Aku, "enak!"
Dia, "Nyata gak itu?"
Aku, agak aneh mendengar pertanyaannya, "iyalah.."
Dia, "kamu tau kenyataan itu apa?!"
Well, samapai disitu aku terdiam dan berpikir. Kenyataan ya sesuatu yang kita rasakan dan nyata. Nah dia kembali bertanya "kalau begitu apa itu nyata?". Nyata ya berarti bisa dilihat, dipegang, dicium, dirasakan dalam artian dicicip juga, ya dengan panca indera sekarang.
sampai disitu aku bisa menangkap maksudnya..
"Nah sarapan tadi pagi memang nyata tapi pada saat kamu memakannya pagi tadi. Sekarang? kamu hanya bisa membayangkan perasaanmu saat memakan bubur tadi dan mencoba memvisualisasikannya lewat pikiranmu. Jadi apakah itu nyata sekarang? yang nyata sekarang adalah kamu ada diseminar saya, mendengar saya mengoceh, melihat saya, tanpa harus membayangkan saya bagaimana. dan itulah kenyataan. Saat saya bertanya tentang sarapan, otakmu secara otomatis akan mengulang peristiwa yang sudah dilakukan. disitulah pikiran bermain. pikiranmu menganggap bahwa hal yg sudah menjadi masa lalu itu adalah sebuah kenyataan."
Sebenarnya seluruh manusia hanya berkutik dan berputar pada 3 hal saja; Kesehatan+penampilan, Keuangan, dan Cinta. Nah kalau masalahnya ternyata sama saja diantara semua manusia dimuka bumi ini, lalu apa yang membuat masalahmu begitu istimewa?! saat itu dia berkata, "Berhenti menganggap masalahmu itu istimewa!" aku langsung ngerasa jlep!!
ya iyalah siy diatas langit msh ada langit lagi.. aku juga tahu bahwa pasti ada orang memikili masalah yang lebih parah dari masalah kita. Tapi pasti ada saatnya kita merasa malah kita itu begitu istimewa sampe kita terlarut dalam masalah tersebut tanpa kita sadari.
Coba deh kita renungkan! kita ambil waktu buat sendiri. cuman beberapa menit kok. Kita tutup mata kita, coba rasakan, apakah ada yang menganjal dihatimu? bandingkan moment paling bahagiamu dengan moment paling mnyedihkan menurutmu dalam hidupmu, manakah yang lebih kuat? dan dari skala 1 - 10, cobalah kamu hitung kadar kebahagian ato kesedihanmu itu menyelimuti dirimu.
Sebagian besar manusia menyimpan rasa sedihnya, rasa sakit hatinya dalam hatinya dalam skala yang lumayan besar sehingga mengalahkan kebahagiaanya. Mereka merasa mereka kuat, baik-baik saja. Tapi ternyata saat dilakukan percobaan melalui alat berteknologi canggih ternyata ketauan deh kalau ada yang salah. hehe
Well manusia terbiasa dengan memakai topeng. Bukan karena apa-apa, tapi karena kita sendiri yang belajar untuk menggunakan topeng tersebut. berbeda dengan bayi kecil yang lum mengerti apa-apa, kalau lapar dia menangis, kalau senang ia tersenyum. Kita? manusia yang menganggap dirinya dewasa, bahkan seorang anak kecilpun (muridku contohnya..) bisa saja tersenyum disaat kita sedang bersedih. Topeng tiu tidak bisa dilepas dr kehidupan kita sehari-hari. bener ga?!(kalau salah tolong dibenarkan yaaa...) Topeng itu tercipta karena adanya masalah dalam hidup kita yang kita anggap istimewa tersebut.
Ambil waktu buat dirimu sendiri. Bernafaslah. Rasakan kalau kamu benar2 bernafas. tahan nafasmu, pikirkan pikiran yang selama ini kamu pikirkan, biarkan dirimu jatuh lebih dalam pemikiranmu, buang nafasmu, keluarkan bebanmu. Ulangi lagi sampai kamu merasa hasil pemikiranmu itu mencapai klimaks, dan jangan tahan apapun. menangis kalau kamu ingin menangis, berteriaklah jika ingin berteriak.
Intinya, kenyataan itu hanyalah sesaat. sebentar banget. yang harus kamu hadapi dan selalesaikan.
sedangakan masa lalu dan masa depan hanyalah pikiranmu yang membuatnya nyata. Jadi, jangan pernah kalah dengan pikiranmu sendiri!
"We are what our thoughts have made us; so take care about what you think." -Swami Vivekananda-
(oia kalo ada yang slh dan kurang dr note ini, tolong bantuannya buat merevisinya mnjadi lebih baik yaa...)
Thx alot,
Melitut
No comments:
Post a Comment